Dinar Emas | Investasi, Proteksi, dan Dakwah

Timbangan yang Adil Sepanjang Zaman

Rasio Dinar dan Dirham

Sama seperti pasangannya Dinar emas, Dirham perak juga tak mengenal inflasi. Dinar dan Dirham memang ditakdirkan hadir berpasangan, sebagai penakar nilai yang sangat stabil. Keduanya juga telah ditetapkan nisbahnya secara syar'i, 7:10 dalam beratnya, yakni 4.25 gram untuk Dinar emas dan 2.975 gram untuk Dirham perak. Bagaimana dengan perbandingannya dalam nilai? Tidak ada ketentuan yang menetapkannya, alias mengikuti hukum pasar, tergantung pada permintaan dan penawaran keduanya. Tentu saja kita dapat melihatnya secara historis yang menunjukkan perbandingan nilai Dinar versus Dirham yang berubah-ubah.

Di zaman ketika Rasulullah SAW masih hidup perbandingannya adalah 1:10. Boleh jadi karena keadaan saat itu yang demikianlah maka hukum atas nisab zakat mal pun antara keduanya berbanding 1:10. Nisab zakat Dinar emas adalah 20 Dinar, sedangkan zakat Dirham perak adalah 200 Dirham. Ketentuan ini tidak berubah sampai saat ini, meskipun nisbah nilai Dinar dan Dirham berubah-ubah. Imam Malik, misalnya, dalam kitabnya Al Muwatta , melaporkan bahwa pada masa sesudah kenabian nisbah Dinar dan Dirham, berubah-ubah sampai 1:12, tapi nisab zakat tak boleh berubah. Di masa-masa selanjutnya perbandingan ini terus membesar rasionya. Di abad ke-14, misalnya, di zaman Mamluk, di Mesir, terjadi inflasi besar-besaran akibat sultan mencetak terlalu banyak fulus (terbuat dari tembaga). Al Maqrizi, mantan Muhtasib, ketika itu, menegaskan agar nisbah nilai Dinar dan Dirham dipertahankan pada posisi 1:24.

Dinar dan Dirham kembali disandingkan, dengan rasio nilai Dinar dan Dirham saat ini adalah sekitar 1:50. Ini menunjukkan tingkat yang teramat jauh dari tingkat ideal di zaman Nabi SAW, yang berada pada tingkat 1:10 sampai 1:12.

Apa makna rasio Dinar:Dirham saat ini yang berada pada posisi 1:50? Jelas hal ini menunjukkan bahwa perak, atau Dirham, tengah mengalami posisi under-valued. Nilai Dirham saat ini jauh di bawah nilai yang seharusnya. Posisi ideal emas dan perak seharusnya mengikuti keadaan fitrahnya, sebagaimana yang kita temukan di alam raya. Sebagaimana kita ketahui dua logam mulia ini, di dalam bumi, selalu ditemukan secara bersamaan, dalam kadar emas sekitar 6%-10%an. Dengan kata lain, perbandingan bijih emas dan perak dalam keadaan alamiahnya, rata-rata, umumnya adalah sekitar 1:12. Bukankah di sini kita dapat melihat betapa agungnya alasan Rasulullah SAW menetapkan rasio nisab zakat Dinar dan Dirham adalah 1:10, yakni perbandingan yang sangat dekat dengan fitrah alam?

Dalam bentuk koin, tentu perbandingan emas dan perak, tidak lagi 100% alamiah, karena telah masuk unsur-unsur campur tangan manusia, seperti biaya pencetakan dan penyebarluasan. Dan, tentu saja, keadaan perekonomian dan pasar di dalam masyarakat juga mempengaruhi nisbah nilai Dinar dan Dirham ini. Meskipun, dalam hal nisab zakat, ketentuannya tetap tak berubah, 1:10. Khususnya di zaman mutakhir kini, ketika penetapan nilai tidak lagi didasarkan pada fitrah, melainkan dirusak oleh "nilai nominal" yang dibubuhkan pada uang kertas, rasio nilai emas dan perak menjadi sangat lebar, 1:50. Posisi terbaik yang pernah dicapainya adalah 1:30. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana kita alami, koin Dirham perak akan jauh lebih diperlukan, untuk transaksi-transaksi kecil dan menengah yang lebih banyak ketimbang transaksi besar (yang dapat dilakukan dalam dinar emas). Maka, permintaan akan koin perak akan jauh lebih besar dari permintaan atas koin emas. Dapat disimpulkan, peraklah yang mengalami under-valued dan bukan emas yang mengalami over-valued. Dengan kata lain, nilai Dirham peraklah yang akan terus mengejar nilai Dinar emas, untuk mendekatkan rasionya kepada keadaan yang lebih sesuai dengan fitrahnya. Bisa diestimasikan, kalau kita berpatokan kepada petunjuk Al Maqrizi saja, yaitu rasio Dinar dan Dirham adalah 1:24, maka nilai Dirham akan terus meningkat, mengejar nilai Dinar, setidaknya sampai 2 kali lipat dari nilai saat ini. Dengan kata lain, dalam jangka panjang, menabung dan bertransaksi dengan Dirham perak akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan menabung dan bertransaksi dalam Dinar emas. Karena itu, tak perlu ragu, mulailah menabung dan bertransaksilah dengan Dirham perak - di samping dengan Dinar emas tentunya untuk nilai yang lebih besar - sekarang juga!(wakalanusantara)

Comments

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*

Ahlan Wa Sahlan

Photobucket

DINO YUDHA

=======================
======================

twitterku

***

 photo IMG_20150213_131845_edit_edit_zpsdc3cc924.jpg