Dinar Emas | Investasi, Proteksi, dan Dakwah

Timbangan yang Adil Sepanjang Zaman

Konsumsi vs Investasi

Dalam wawancara dengan kantor berita Antara pekan lalu (9/07/2010) menteri keuangan kita menyatakan bahwa kegiatan konsumsi merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia semester pertama tahun ini, "Tentu yang paling besar adalah dari konsumsi, dan itu masih terus dominan menggerakkan pertumbuhan kita," katanya.

Situasi ini tidak berubah dari tahun sebelumnya dimana pertumbuhan ekonomi kita juga didorong oleh konsumsi, khususnya konsumsi masyarakat yang mencapai pertumbuhan 4.9 % year on year pada pertumbuhan ekonomi yang dicatatkan pada angka 5,4%.

Apanya yang salah dengan ini ?, mungkin secara nasional hal ini tidak terlalu salah karena ekonomi toh tumbuh anyway. Namun yang menjadi masalah adalah siapa yang menikmati pertumbuhan ekonomi ini ?. Pertumbuhan ekonomi yang terlalu mengandalkan pertumbuhan konsumsi masyarakat, bisa jadi malah memiskinkan masyarakat itu sendiri – tergantung pada siapa yang memproduksi barang atau jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat tersebut.

Saya ambil dua contoh untuk memperjelas masalah ini. Dahulu waktu saya SMP, hanya orang kaya di desa saya yang bisa membeli sepeda motor. Sekarang kalau saya pulang ke desa, orang miskin di desa saya-pun kini bisa membeli motor. Bagaimana mereka membeli motor ?, Dengan uang Rp 500,000 mereka bisa membayar uang muka kredit motor. Kemudian dengan kerja kerasnya selama tiga tahun berikutnya, dengan menarik ojek dlsb. baru dia bisa membayar kredit motor tersebut. Industri sepeda motor tumbuh, tetapi sebagiannya ditopang oleh kerja keras orang-orang seperti ini yang menghabiskan sebagian besar pendapatannya hanya untuk membayar kredit motornya.

Contoh kedua adalah telekomunikasi. Sebagai manager perusahaan asing 20 tahun lalu saya sudah mendapatkan fasilitas mobile telephone. Tetapi mobile telephone saat itu ukurannya segede accu mobil, dan harganya sama dengan mobil dinas saya. Saat itu yang perlu membeli mobile telephone dan membayar tagihan bulanannya hanya kantor-kantor perusahaan besar atau orang-orang yang memang bener-bener mampu membayarnya. Kini para Pekerja Rumah Tangga (PRT)-pun menghabiskan sejulah besar dari penghasilannya untuk membeli telepon genggam dan membayar pulsanya.

Di satu sisi mungkin ada baiknya karena motor maupun telepon genggam kini bukan hanya untuk golongan yang bener-bener mampu; masyarakat yang sebenarnya kurang mampu-pun dapat menikmatinya.

Sisi negatifnya adalah, tanpa disadari konsumsi suatu barang atau jasa oleh masyarakat yang sebenarnya tidak atau belum mampu – justru akan mengorbankan masyarakat itu sendiri.

Krisis finansial dunia yang dimulai di Amerika dua tahun lalu misalnya, penyebabnya adalah kredit perumahan yang dinikmati oleh masyarakat yang sebenarnya tidak mampu membayarnya. Dalam contoh kredit motor tersebut, yang menjadi korbannya adalah masyarakat yang tidak mampu membeli – harus menghabiskan tiga tahun waktu produktif berikutnya hanya untuk sebagian besarnya membayar hutang.

Dalam contoh telepon genggam, para PRT yang kecanduan haha hihi di telepon akan gagal mengumpulkan tabungan karena hasil kerja kerasnya akan lari ke produsen telepon genggam dan para operator telepon seluler.

Lantas bagaimana caranya agar kita tidak menjadi korban dari ekonomi yang mengandalkan konsumsi ini ?.

Rule of thumb-nya yang pertama dan paling efektif adalah jangan mengkonsumsi barang atau jasa yang sebenarnya kita belum mampu untuk mengkonsumsinya, apalagi yang sebenarnya tidak terlalu kita perlukan atau bahkan tidak bermanfaat .

Kedua gunakan kelebihan dana hasil kerja keras kita untuk kegiatan yang bersifat produktif atau investasi. Belajar berusaha, meningkatkan skills, membeli barang-barang produksi dlsb yang intinya untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna.

Ketiga seiring dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya berbagai jejaring sosial, terlibatlah dalam ekonomi partisipatif dan kegiatan positif lainnya dan jangan sebaliknya menjadi korban kemajuan teknologi.

Untuk yang terakhir ini seperti pisau bermata dua; teknologi bisa menjadi unsur konsumsi yang menggerogoti kantong kita atau menjadi faktor produksi yang meningkatkan produktifitas kita.

Internet, facebook, BBM dlsb bisa jadi alat yang efektif bagi kita untuk membangun jejaring sosial , menambah/memperluas pengetahuan dan wawasan, bahkan juga memasarkan produk barang, jasa dan keahlian kita – sebaliknya jangan hanya menjadi cost centre dalam belanja bulanan kita.

Mari berhenti menjadi korban ekonomi konsumsi dan mulai berinvestasi, berproduksi dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi . (Muhaimin Iqbal).


Comments

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*

Ahlan Wa Sahlan

Photobucket

DINO YUDHA

=======================
======================

twitterku

***

 photo IMG_20150213_131845_edit_edit_zpsdc3cc924.jpg