Dinar Emas | Investasi, Proteksi, dan Dakwah

Timbangan yang Adil Sepanjang Zaman

Timbangan yang adil sepanjang zaman

Bila tahun 2010 Anda memiliki uang sebesar Rp 6,518,- Anda sudah bisa membeli 1 kg beras kwalitas rata-rata. Dua tahun kemudian 2012, uang yang sama bila Anda belikan beras tinggal memperoleh 0.86 kg. Tahun 2012 Anda perlu uang sebesar Rp 7,550,- untuk bisa membeli 1 kg beras kwalitas rata-rata. Begitu banyak kita diingatkan untuk menegakkan timbangan, tetapi justru instrumen perdagangan utama manusia modern yaitu uang kertas secara amat gamblang dan terus menerus mengurangi timbangan itu.

Takaran dan timbangan yang paling banyak digunakan untuk jual beli manusia modern bukan untuk menakar volume atau menimbang berat, tetapi untuk menentukan nilai. Lantas bagaimana bila penentu nilai itu sendiri berubah-ubah nilai atau daya belinya dari waktu ke waktu, tidak ada standar yang sama di antara satu negeri dengan negeri lainnya ?.

Jawabannya adalah seperti menakar dengan takaran yang volumenya terus mengecil, seperti menimbang dengan anak timbangan yang terus bertambah ringan. Hasil yang bisa ditakar atau ditimbang menjadi semakin sedikit. Uang kertas kita adalah takaran yang volumenya mengecil atau timbangan yang anak timbangnya terus bertambah ringan tersebut.

Dampak yang lebih luas dari tidak adanya takaran atau timbangan yang baku adalah perdagangan di dunia modern seperti orang-orang yang berjalan di lorong gelap, hanya yang membawa lampu sendiri yang tahu sedang berjalan kemana – sementara mayoritas orang tidak tahu sedang ke arah mana dia berjalan.

Pemerintah-pemerintah dunia mungkin tahu apa yang sedang mereka lakukan, tetapi mayoritas rakyat tidak sadar atau tidak tahu bahwa hasil jerih payah mereka bekerja bertahun-tahun –terus menyusut bila untuk menakar/menimbang (baca : membeli) barang-barang kebutuhan seperti dalam contoh beras tersebut di atas.

Bagaimana era kegelapan timbangan ini membuat manusia kehilangan arah dapat diilustrasikan dari kasus berikut :

Pada musim qurban 2010, harga seekor kambing super (sekitar 40 kg) harganya di kisaran Rp 1,700,000. Pada tahun 2012 kambing qurban dengan berat yang kurang lebih sama, harganya di kisaran Rp 2,500,000,-. Mana yang lebih mahal ? dari sisi angka Rupiah tentu tahun 2012 lebih mahal 47% dari harga tahun 2010.

Kita bandingkan lagi dengan harga kambing di Amerika pada tahun-tahun tersebut. Untuk kambing dengan berat yang kurang lebih sama, tahun 2010 harganya US$ 100,- dan tahun 2012 harganya di kisaran US$ 150,-. Harga kambing di Amerika dari tahun 2010 ke tahun 2012 mengalami kenaikan sedikit saja lebih tinggi dari harga kambing di kita yaitu di kisaran 50%.

Dengan timbangan Rupiah dan Dollar selain kita tidak tahu apakah  harga tahun 2012 benar-benar lebih tinggi dan seberapa besar lebih tingginya, kita juga tidak bisa langsung membandingkan mana yang lebih mahal harga kambing di Indonesia dalam Rupiah atau kambing di Amerika dalam Dollar.

Harga kamibing tahun 2010 Rp 1,700,000 setara dengan 1.0852 Dinar, sedangkan tahun 2012 setara dengan 1.1357 Dinar. Sekarang kita bisa membandingkan dengan timbangan yang adil itu, harga kambing 2012 ternyata memang lebih mahal tetapi hanya naik sekitar 4.7 % dalam dua tahun.

Maknanya adalah dengan Dinar-pun harga kambing bisa naik, yaitu manakala demand melebihi supply. Ketika orang yang mampu membeli qurban kambing super lebih banyak dari pertambahan supply-nya – maka harganya memang akan naik. Tetapi kenaikan karena demand yang melebihi supply ini, dalam jangka panjang akan menuju kestabilan karena akan menarik bagi yang akan men-supply kambing qurban berikutnya.

Dengan mengetahui bahwa kenaikan harga kambing  riilnya hanya 4.7% selama dua tahun 2010 ke 2012, lantas mengapa dengan uang Rupiah naiknya sampai 47% ? Itulah kenaikan karena inflasi harga kambing dalam Rupiah selama dua tahun terakhir.

Bila kita sederhanakan misalnya kenaikan harga itu hanya dipengaruhi oleh dua sebab yaitu faktor inflasi dan faktor supply and demand atau saya formulasikan KENAIKAN HARGA = F(Inflasi)*(1+ Kenaikan Karena Supply and Demand), maka 47% = F(Inflasi)* (1+4.7%). Dari sini diketahui bahwa inflasi Rupiah telah menaikkan harga kambing qurban kelas super sebesar  44.89% dalam dua tahun dari 2010 ke 2012.

Kalkulator yang sama bisa kita gunakan untuk menghitung kenaikan harga kambing dengan ukuran yang kurang lebih sama di negeri Paman Sam. Harga kambing US$ 100 pada tahun 2010 setara dengan 0.5814 Dinar, harga kambing US$ 150 pada tahun 2012 setara dengan 0.6383 Dinar. Jadi dalam Dinar kenaikan kambing di AS dari 2010 ke 2012 adalah 9.8%.

Karena dalam Dollar naiknya sampai 50% ( dari US$ 100 ke US$ 150), maka sebenarnya kenaikan karena faktor inflasinya adalah 50% = F(Inflasi)*(1+9.8%). Jadi Faktor inflasi-nya saja mempengaruhi kenaikan harga kambing 45.54% di Amerika antara tahun 2010 ke 2012.

Setelah menggunakan timbangan yang sama, kita juga bisa mengetahui bahwa kambing qurban kelas super yang di Indonesia tahun lalu berharga 1.1357 Dinar jauh lebih tinggi dari kambing dengan berat yang kurang lebih sama di Amerika yang hanya 0.6383 Dinar. Apa penyebabnya?, lagi-lagi antara lain karena supply and demand tadi, ongkos produksi dan lain sebagainya – tetapi bukan karena faktor inflasi, karena faktor inflasi dalam artian penurunan daya beli uang-nya sudah kita eliminir.

Lagi-lagi perhitungan di atas membuktikan akan adanya suatu alat tukar atau suatu timbangan yang stabil daya belinya sepanjang zaman. Bila di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam harga kambing qurban di kisaran 1 Dinar, setelah lebih dari 1,400 tahun perhitungan-perhitungan di atas menunjukkan 1 Dinar yang sama tetap dapat untuk membeli kambing kwalitas super sekarang.

Bandingkan dengan uang kertas dalam rentang 33 tahun terakhir saja misalnya, dari 1979 harga kambing kelas super yang wajar Rp25,000-an – naik  100 kali menjadi Rp2,500,000,- tahun 2012. Dengan pendekatan yang sama, kita bisa tahu bahwa tahun 1979 kambing super berharga 0.9259 Dinar sedangkan tahun 2012 seharga 1.1357 Dinar atau hanya mengalami kenaikan riil 22.65 % selama 33 tahun.

Bahwasannya dalam Rupiah pada rentang waktu 33 tahun itu harga kambing super naik menjadi 100 kalinya atau naik 9,900 % itu karena ada inflasi uang kertas sebesar 8,071.75% !

Timbangan yang adil adalah ibarat lampu yang menerangi jalan, kita bisa tahu arah yang benar apakah fitrah mekanisme pasar supply and demand yang mempengaruhi harga-harga kita, atau karena faktor lain seperti utamanya inflasi ini. Bayangkan kalau kenaikan harga karena inflasi seperti harga beras 2010-2012 tersebut kita kira karena kelebihan demand terhadap supply, kita akan salah mengambil keputusan.

Karena penyebabnya inflasi bukan karena supply yang tidak mencukupi demand, maka yang harus diperbuat para pemimpin adalah mengendalikan inflasi ini jangan sampai terjadi – agar rakyat bisa tahu arah yang benar – berapa seharusnya tingkat produksi yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya.


Comments

Comments are closed.

Ahlan Wa Sahlan

Photobucket

DINO YUDHA

=======================
======================

twitterku

***

 photo IMG_20150213_131845_edit_edit_zpsdc3cc924.jpg